Matematika
merupakan proses berpikir manusia tentang pengalaman permasalahan yang ditemui
dan dipecahkan, yang kemudian pengalaman pemecahan masalah tersebut menjadi
suatu yang terkonstruksi sebagai suatu konsep matematika yang kemudian dapat
digunakan sebagai alat pemecahan masalah yang sama atau yang baru. Matematika
itu tidak dapat dikatakan hanya sebagai ilmu, ia memiliki bagiannya
sendiri-sendiri. Seperempat dari matematika adalah struktur, seperempat bagian
yang lainnya adalah kreativitas, dan seperempat bagian lainnya adalah proses.
Matematika selalu ada dalam kehidupan manusia. Matematika hidup dan tumbuh
bersama manusia. Dimana ada manusia, maka disitulah keberadaan matematika.
Bahkan sejak zaman Nabi Adam diturunkan ke bumi, ia juga telah menggunakan
matematika karena saat itu pastilah Nabi Adam mampu menghitung jumlah anaknya.
Dari menghitung jumlah anak ini dapat diketahui bahwa matematika sudah
digunakan Nabi Adam kala itu. Matematika akan selalu ada sampai akhir zaman.
Matematika tidak bergantung
terhadap perubahan ruang dan waktu. Waktu merupakan separuh dari kehidupan.
Bila waktu dihilangkan, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang
akan melebur menjadi satu dan ini berarti tidak aka nada kehidupan. Separuh
kehidupan yang lain adalah ruang. Jika didunia ini tidak ada ruang, maka
kehidupan juga tidak dapat berlangsung. Seorang matematikawan harusnya mampu
untuk bereksperimen dalam ruang dan waktu. Namun, manusia adalah tempatnya
kelemahan dan kekurangan karena kesempurnaan dan ketelitian hanyalah milik
Tuhan semata. Ruang matematika bersasngkutan dengan titik-titik, garis-garis
serta definisi-definisi ruang yang tidak mengacu pada alam objektif. Seorang
ahli matematika menyelidiki satuan-satuan yang adanya hanya dalam pikiran.
Ruang matematik merupakan ciptaan ahli matematika, ruang objektif sebagai ruang
di suatu tempat tertentu, sedangkan hasil cerapan merupakan ruang yang kita
cerap. Matematika dapat menciptakan ruang yang berhingga dan tidak berhingga.
Terdapat berbagai bentuk waktu yaitu waktu objektif, waktu matematik, waktu
mutlak, dan waktu relatif. Waktu objektif dalam arti berada di luar diri
manusia sebagai realitas tersendiri Waktu matematik adalah waktu yang dipandang
sebagai matra atau ukuran dari gerak atau waktu yang terukur. Waktu mutlak
adalah waktu yang keberadaannya ditentukan atau terpengaruh oleh keberadaan
yang lain.
Menurut Plato, idealisasi
matematika berarti menganggap bahwa matematika itu adalah sempurna. Sedanglan
abstraksi adalah matematika yang berdasarkan pikiran kita. Ada beberapa jenis
matematika, yaitu :
·
Matematika
formal (matematika yang dipelajari mahasiswa)
·
Model
formal (matematika yang dipelajari di SMA)
·
Model
konkrit (matematika yang dipelajari di SMP)
·
Matematika
konkret (matematika yang dipelajari di SD).
Matematika diluar pikiran maupun didalam pikiran
yang banyaknya hanya satu disebut sifat monoisme, sedangkan yang jumlahnya
banyak disebut pluralisme. Antifoundalisme adalah percaya pada sesuatu tetapi
tidak tahu apa dasrnya atau tidak tahu mengapa hal itu dapat terjadi. Tokoh
dari antifoundalisme ini adalah Brouwer. Foundationalisme berkebalikan dengan
antifoundalisme, yaitu percaya pada teorema dan bukti-bukti. Jadi jika tidak
ada teori atau bukti yang kuat untuk menjelaskan sesuatu, orang beraliran
foundalisme tidak akan mempercayai pada suatu hal. Emanuel Kant mengatakan
bahwa matematika merupakan gabungan dari pikiran dan pengalaman, atau syntetic
apriori.
0 komentar:
Posting Komentar