keep spirit

welcome

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Filosofi Kehidupan Dalam Matematika



Maha Besar Tuhan Pencipta Alam Semesta Seisinya. Dari tidak ada kemudian ada, itulah kita sebagai mahluk Tuhan Yang Mahaesa  yang berasal dari ketiadaan menjadi ada karena dikehendaki Tuhan  melalui proses biologis sehingga terlahirlah kita di dunia ini. Manusia adalah sebuah komputer – seperti alat, yang dapat deprogram melalui latihan untuk melakukan, pada tingkat yang paling bawah, aritmetika dan aljabar, mungkin operasi-operasi geometri, dan untuk memecahkan masalah yang ditemukan, dibedakan oleh pola-pola bermakna dan diproses melalui pengulangan. Hal ini, selanjutnya pada tingkat paling bawah, dimana manusia ditempatkan dalam sebuah hirarki komputer yang sifatnya terampil, yang dihubungkan satu sama lain sebagai programmer dan subyek yang diprogram. Jika kita memandang konsep kehidupan ini dari sudut pandang ilmu matematika, mungkin salah satu cabang ilmu matematika yang dapat menjelaskan hal ini adalah KALKULUS. Tidak asing bagi yang telah belajar matematika tentu telah mengenal apa itu Deferensial dan Integral. Dua bahasan itulah yang paling dekat untuk mendeskripsikan kehidupan ini.
Ketika kita berumur kurang lebih 4 bulan di dalam rahim ibu kita, ditiupkanlah ruh kehidupan pada diri kita beserta segala ‘potensi’ anugerah dari Tuhan dan ketika kurang lebih 9 bulan 10 hari (normal) ditugasilah kita menjadi khalifah di bumi Tuhan Yang Mahaesa. Proses deferensiasi kita tersebut menjadikan kita sebagai mahluk pengabdi kepada Tuhan. Tentu saja konsekuensinya kita di dunia ini dituntut melakukan apa saja cipta, rasa dan karsa sebagai manusia yang mengandung muatan ibadah kepada-Nya.
Perjalanan kita dalam kehidupan ini diibaratkan suatu fungsi (y) yang ter-deferensial menjadi y’ (dy/dx) sehingga ada satu Konstan (C) yang “hilang” akan tetapi sebenarnya hanya tidak ditampakkan oleh Tuhan karena C yang hilang mengandung muatan ketetapan Tuhan atau dalam agama Islam dinamakan Qadha’ yang harus ditempuh oleh manusia untuk menemukan kembali C yang hilang tersebut dengan segala potensi yang kita miliki dalam fragmen-fragmen kehidupan (taqdir) kita. Muatan C tersebut bisa saja positif jika kita menaati aturan-aturan Tuhan dalam agama dan bisa negatif jika kita menuruti hawa nafsu yang tidak terkontrol oleh hukum positif universal tergantung kita mengisi fungsi y kita dengan nilai variabel yang kita usahakan. Dengan kata lain C adalah seluruh muatan amal kita dalam kehidupan fana ini, sehingga C menjadi hal yang sangat penting bagi manusia itu sendiri.
Setelah kita menyentuh batas akhir perjalanan hidup yang telah digariskan Tuhan, kita menjadi suatu fungsi yang terintegralkan menjadi fungsi y secara utuh plus dengan nilai C yang telah kita usahakan di dunia, habislah kita sebagai fungsi dy/dx. Nah, nilai C yang kita usahakan di dunia yang muncul akibat segala upaya kita di dunia itulah yang akan ditanyakan oleh Tuhan. Sebagai manusia yang beriman hendaknya kita lebih memperhatikan tindakan dan perilaku kita selama di dunia agar nilai C kelak yang kita terima di akhirat kelak akan baik.
Sumber :
Nama : Rakhmatika Sri Wardhani
NIM : 10305144046